Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hikmah Doa Malam Lailatul Qadar


Musnad Ahmad 24215: 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ بُرَيْدَةَ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ قَالَ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja‘far, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Kahmas, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ibnu Buraidah, ia berkata, Aisyah berkata, "Wahai Nabi Allah, bagaimana pendapatmu jika aku menemui malam Lailatul Qadar, apa yang sebaiknya aku ucapkan?" Nabi menjawab, "Ucapkanlah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku)."


Mufradat:

وافقَ/ وافقَ على يوافق، وَافِقْ، مصدر مُوَافَقَةٌ، وِفَاقٌ، فهو مُوافِق، والمفعول مُوافَقٌ

وَافَقَ - يُوَافق عَلَى : 1. memufakati , menyetujui , menyepakati , mengakui , mendukung , menguasakan ; 2. menyesuaikan , mencocokkan , pantas , sesuai ; 3. bertepatan , bersamaan waktunya


1. Makna Haqiqi (Harafiah)
Secara harfiah, وَافَقْتُ berarti:  
- Aku bertemu, aku bertepatan, aku sepakat, atau aku sesuai dengan sesuatu.

Contoh:  
- وَافَقْتُ زَمَانَهُ – Aku bertepatan dengan masanya.  
- وَافَقْتُ رَأْيَهُ – Aku sepakat dengan pendapatnya.  

2. Makna Majazi (Kiasan)
Secara majazi, kata ini bisa memiliki makna yang lebih dalam, seperti:  
- Aku memperoleh atau berhasil mencapai sesuatu yang mulia atau istimewa.
- Dalam konteks hadis yang dibahas, وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ berarti "aku berhasil menemui atau bertepatan dengan malam Lailatul Qadar," yang tidak hanya berarti kebetulan waktu, tetapi juga memiliki nuansa spiritual tentang keberuntungan menemui malam yang penuh berkah.  

Jadi, makna majazinya cenderung mengarah pada keberuntungan, kehormatan, atau pencapaian spiritual.  

Kata وَافَقْتُ digunakan dalam hadis ini karena memiliki makna yang lebih luas dan mendalam dibandingkan beberapa sinonimnya, seperti:

وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ – Aku bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, memiliki makna paling mendalam, menyiratkan keberkahan, takdir, dan keharmonisan antara waktu dan kehendak Allah.

لَقِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ – Aku bertemu malam Lailatul Qadar, lebih sederhana dan hanya menggambarkan pertemuan tanpa makna pencapaian atau keberkahan khusus.

لقِيَ يَلقَى، الْقَ، اِلْقَ، مصدر لِقَاءٌ، لُقْيَانٌ، لَقْيَةٌ، فهو لاقٍ، والمفعول مَلْقِيّ
لَقِيَ - يلْقى : bertemu , menemui , berjumpa


وَجَدْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ – Aku menemukan malam Lailatul Qadar, menekankan usaha dan hasil konkret dari pencarian, tetapi tanpa nuansa spiritual yang kuat seperti وَافَقْتُ.

وجَدَ1/ وجَدَ بـ يجِد، جِدْ، مصدر وُجُودٌ، وِجْدَانٌ، وَجْدٌ، فهو واجِد، والمفعول موجود به
وَجَدَ - يَجِدُ : mendapatkan , menemukan , mengalami , mengetahui , mendeteksi , menyoroti , mempertimbangkan , menganggap

Hikmah:

Doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadis ini memiliki banyak hikmah dan isyarat makna yang mendalam. Berikut adalah tiga hikmah dan isyarat kata-katanya:  

1. Pengagungan nama Allah
Penggunaan Nama Allah عَفُوٌّ, Kata عَفُوٌّ adalah salah satu Asmaul Husna yang berarti Maha Pemaaf, dengan makna lebih khusus dari Al-Ghaffar (Maha Pengampun). Jika Al-Ghaffar berarti menutupi dosa, Al-‘Afuww berarti menghapus dosa sepenuhnya hingga tidak meninggalkan jejak.


عفا/ عفا عن يَعْفُو، اُعْفُ، مصدر عَفْوٌ، عَفَاءٌ، فهو عافٍ، والمفعول مَعْفوّ
عَفُوّ [مفرد]: صيغة مبالغة من عفا/ عفا عن.
• العَفُوّ: اسم من أسماء الله الحسنى،
عَفَا عَنْ : memaafkan , mengampuni , membebaskan

Maksud dari definisi tersebut adalah bahwa kata عَفُوّ merupakan sighah mubalaghah, yaitu bentuk kata yang digunakan untuk menunjukkan makna yang sangat intens atau berlebihan dari kata dasarnya dan bermakna isim fail.

Kata dasarnya adalah عفا yang berarti memaafkan, menghapus dosa, atau mengampuni kesalahan. Karena berbentuk sighah mubalaghah, kata عَفُوّ berarti: Yang sangat pemaaf, Yang senantiasa memaafkan dan menghapus dosa tanpa jejak, atau Menunjukkan sifat yang kuat dan berulang-ulang dalam memberikan pemaafan.

Perumpamaan tentang hal ini adalah seperti jejak kaki di pasir yang dihapus oleh ombak. Setelah ombak berlalu, jejak itu hilang tanpa bekas, seakan tidak pernah ada. Begitulah pemaafan Allah terhadap dosa-dosa kita.

Oleh karena itu, di malam Lailatul Qadar yang penuh berkah, doa terbaik bukan meminta duniawi, tetapi meminta agar dosa-dosa kita dihapuskan oleh Allah. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan:
"السَّلَامَةُ لا يُعَادِلُهَا شَيْءٌ"
(Keselamatan jiwa tidak ada yang menandinginya).

2. Mengajarkan sikap saling memaafkan
Kalimat تُحِبُّ الْعَفْوَ (Engkau Mencintai Pemaafan)  
Doa ini tidak hanya mengakui sifat Allah sebagai Al-‘Afuww, tetapi juga menegaskan bahwa Allah mencintai sifat pemaaf. Hal ini mengisyaratkan bahwa pemaafan adalah sifat mulia yang juga dicintai oleh Allah dan hendaknya diteladani oleh manusia.

Bayangkan sebuah pohon yang tetap memberikan keteduhan meskipun sering dilempari batu. Begitulah sifat orang yang pemaaf: ia tidak menyimpan dendam dan tetap berbuat baik. Pepatah mengatakan:
"مَنْ عَفَا وَصَفَحَ أَسْتَرَاحَ"
(Barang siapa memaafkan dan melupakan, ia akan hidup tenang).

Jangan sampai kita memohon maaf kepada Allah, tetapi di sisi lain kita masih menyimpan dendam terhadap sesama. Hubungan kita dengan Allah (hablun min Allah) harus tercermin dalam hubungan baik dengan sesama manusia (hablun min an-nas).


3. Pengakuan ketergantungan hanya kepada Allah
Perhatikan betapa singkatnya doa ini: فَاعْفُ عَنِّي (Maka maafkanlah aku). Kalimat ini menunjukkan ketergantungan penuh seorang hamba kepada Allah. Seperti seorang anak kecil yang bersalah dan hanya bisa memeluk ibunya sambil berkata, “Maafkan aku.”

Kita adalah makhluk yang lemah dan penuh dosa. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita selain rahmat dan pemaafan dari Allah. Pepatah mengatakan:
"لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَى مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ"
(Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada jalan keselamatan kecuali kembali kepada-Nya).


Semoga bermanfaat.
Pengasuh Mahad Bahasa Adab
Dr. Ir. Adib Shururi, M.Pd.