Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Lailautul Qadar: Malam Seribu Bulan






Shahih Muslim 1268: 

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami, Mu'adz bin Hisyam telah menceritakan kepada kami, ayahku telah menceritakan kepadaku dari Yahya bin Abu Katsir, ia berkata: Abu Salamah bin Abdurrahman telah menceritakan kepada kami bahwa Abu Hurairah menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."


Berikut adalah makna hakiki dan majazi dari kata-kata dalam hadis tersebut:  

1. قام (Qaama)

قامَ/ قامَ إلى/ قامَ بـ/ قامَ على/ قامَ لـ يَقُوم، قُمْ، مصدر قِيَامٌ، قَوْمٌ، قَامَةٌ، فهو قائم وقيِّم، والمفعول مَقوم

قَامَ - يَقُوْمُ : 1. naik , bangun , berdiri ; 2. berangkat , pergi duluan , lepas landas , mulai , meninggalkan

- Makna hakiki (literal): Berdiri atau melakukan suatu amalan dengan tegak, seperti berdiri untuk melaksanakan shalat.  
- Makna majazi (kiasan): Dalam konteks hadis ini, kata قام bermakna melaksanakan ibadah shalat pada malam Lailatul Qadar. Kata ini bisa juga bermakna lebih luas, mencakup ibadah malam lainnya seperti membaca Al-Qur'an, berzikir, dan berdoa.

2. إيمانا (Iimaanan)

آمنَ/ آمنَ بـ/ آمنَ لـ يُؤمن، آمِنْ، مصدر إِيمَانٌ، فهو مُؤمِن، والمفعول مُؤمَن
آمَنَ - يُؤْمِنُ بِـ : percaya akan , beriman pada

- Makna hakiki (literal): Keimanan, yakni keyakinan yang mantap kepada Allah, Rasul-Nya, dan ajaran Islam.  
- Makna majazi (kiasan): Dalam hadis ini, إيمانا bermakna menjalankan ibadah dengan keyakinan dan penuh kesadaran akan kebenaran janji Allah, serta ketulusan hati dalam beribadah.

3. احتسابا (Ihtisaaban)

احتسبَ/ احتسبَ بـ يحتسب، اِحْتَسِبْ، مصدر اِحْتِسَابٌ، فهو مُحْتَسِب، والمفعول مُحْتَسَب

اِحْتَسَبَ - يَحْتَسِبُ : menganggap , membilang , memperhitungkan

- Makna hakiki (literal): Mengharapkan perhitungan (pahala) dari Allah.  
- Makna majazi (kiasan): Dalam konteks hadis, احتسابا berarti melakukan ibadah dengan niat yang tulus, semata-mata mengharap pahala dan ridha Allah, bukan karena riya' (pamer) atau sekadar kebiasaan.



Shahih Bukhari 1880 

حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَقُولُ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah memberitahukan kepada kami 'Abdah dari Hisyam bin 'Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan beliau bersabda: ‘Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.’”


جاورَ يجاور، جَاوِرْ، مصدر مُجَاوَرَةٌ، فهو مُجاوِر، والمفعول مُجاوَر
جَاوَرَ - يُجَاوِرُ : tetangga , jiran , tinggal berdekatan , berdampingan, dekat dengan

Secara bahasa, يُجَاوِرُ berarti berdekatan, berdiam di suatu tempat, atau tinggal bersebelahan. Dalam bahasa Arab klasik, kata ini digunakan untuk menunjukkan tinggal dekat atau berdampingan dengan sesuatu.

Dalam konteks hadis ini, يُجَاوِرُ digunakan secara majazi dengan makna beritikaf, yakni berdiam diri di masjid untuk beribadah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.


تحرَّى/ تحرَّى عن/ تحرَّى في يَتحرَّى، تَحرَّ، تحرّيًا، فهو مُتحرٍّ، والمفعول مُتحرًّى
تَحَرَّى - يَتَحَرِّيْ : menyelidiki , menguji , memeriksa , meninjau , mempelajari , melakukan investigasi

Secara bahasa, تَحَرَّوْا berarti carilah atau usahakanlah dengan seksama dan penuh perhatian.
Dalam konteks hadis ini, تَحَرَّوْا bermakna mencari dengan sungguh-sungguh atau berusaha menemukan Lailatul Qadar.


Shahih Bukhari 1878:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Abu Suhail dari ayahnya, dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan."


Semoga bermanfaat.