Ramadan 4 - Bau Surga di Mulut Orang Berpuasa
Muwatha' Malik No.603
حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ إِنَّمَا يَذَرُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي فَالصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ فَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Diriwayatkan kepadaku dari Malik, dari Abu Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak wangi misk. Sesungguhnya ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya karena Aku. Maka puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya. Setiap kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Sesungguhnya ia adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya." (HR. Imam Malik)
Hadis ini bukan sekadar janji pahala, tetapi juga memiliki keindahan bahasa yang luar biasa. Mari kita lihat dari sudut pandang balaghah (ilmu keindahan bahasa).
Pertama, Rasulullah Saw memulai dengan "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ" (Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya). Ini adalah bentuk qasam (sumpah) yang menunjukkan betapa pentingnya pesan yang akan disampaikan.
Kalau dalam kehidupan sehari-hari, ini seperti seseorang berkata, "Demi apa pun, serius ini enak banget!" ketika mencoba makanan yang lezat. Rasulullah Saw ingin kita benar-benar memperhatikan bahwa bau mulut orang berpuasa yang bagi manusia kurang sedap, justru sangat berharga di sisi Allah.
Kedua, Rasulullah Saw menggunakan tasybih (perumpamaan) dengan mengatakan bahwa bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada minyak kasturi.
Puasa adalah ibadah yang tidak bisa dilihat oleh manusia. Orang yang shalat terlihat rukuk dan sujudnya, orang yang bersedekah tampak pemberiannya, tetapi orang yang berpuasa? Tidak ada tanda khusus, kecuali wajah lelah dan bau mulut yang khas.
Namun, justru dalam keadaan inilah Allah memberikan penghormatan. Rasulullah Saw menggambarkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak kasturi di sisi Allah. Ini adalah perumpamaan yang indah!
Secara logika manusia, bau mulut karena lapar itu kurang menyenangkan. Tapi di sisi Allah, itu sangat berharga dan menjadi tanda ketaatan dan ketaqwaan.
Bayangkan seseorang yang sudah berpuasa seharian, lalu ada temannya yang berkata, "Mas, mulutnya kayak bau kompor kebakar nih!" Jangan tersinggung! Katakan saja, "Ini bukan sembarang bau, ini bau pahala!"
"Jangan nilai buku dari sampulnya." Jika manusia hanya melihat dari luar, Allah melihat ketakwaan dari dalam.
Ketiga, Biasanya, setiap amal ibadah memiliki hitungan pahala, seperti satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Tetapi dalam hadis ini, Allah berfirman, "Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya."
Ini menunjukkan bahwa pahala puasa tidak terbatas, bisa lebih dari hitungan biasa! Seakan-akan Allah berkata, "Ini urusan pribadi-Ku, Aku yang atur langsung!"
Kalau dalam kehidupan sehari-hari, ini seperti ada lomba dengan hadiah misteri. Kalau hadiahnya sudah diumumkan, berarti nilainya terbatas. Tapi kalau panitia berkata, "Tenang, hadiahnya spesial, rahasia dari sponsor!" pasti bikin orang makin penasaran dan semangat ikut lomba.
Kesimpulannya, puasa bukan sekadar menahan lapar, haus, dan bau mulut. Lebih dari itu, ia adalah bukti ketundukan kita kepada Allah. Jangan khawatir dengan bau mulut saat puasa! Kalau ada yang komentar, katakan:
"Bukan bau mulut biasa, ini bau yang didoakan malaikat!"
Maka, marilah kita jalani puasa ini dengan penuh semangat. Karena setiap detik yang kita lewati adalah investasi pahala yang langsung Allah tangani.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita, menjadikan kita hamba yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih wangi di sisi-Nya.
Semoga bermanfaat,
Pengasuh Mahad Bahasa Adab
Dr. Ir. Adib Shururi, M.Pd.