Lirik Shalawat Mustaqun (مشتاق)
Lirik Shalawat Mustaqun
مُشْتَاقٌ
مُشْتَاقٌ، مُشْتَاقٌ، مُشْتَاقٌ يَا رَسُوْلَ اللّٰه
حَبِيْبِي مُحَمَّدٌ قَلْبِي يَنْبِضُ لِرُؤْيَاكَ
ذَاك النُّوْرُ فِی رَاحِ يَدَيْك
زَادَ شَوْقِي لِقَائِي إِلَيْكَ
فَاسْقِنِي يَا رَسُولَ فَإِنِّي
قَدْ ظَمِئْتُ وَكَأْسِي لَدَيْكَ
Penjelasan:
مُشْتَاقٌ، مُشْتَاقٌ، مُشْتَاقٌ يَا رَسُوْلَ اللّٰه
"Rindu, rindu, rindu kepadamu, wahai Rasulullah."
اشتاقَ/ اشتاقَ إلى/ اشتاقَ لـ يشتاق، اشْتَقْ، اشتياقًا، فهو مُشتاق، والمفعول مُشتاق
اشتاق هُ ( أو إليه ) ـ : merindukan
مُشْتَاق : yang rindu , menginginkan , mendambakan , merindukan , mengharapkan , membutuhkan , berhasrat , ingin sekali
Untuk memperjelas makna, kita bisa menambahkan kata kerja (fi'il) yang menunjukkan keadaan subjek. Contohnya:
"أَنَا مُشْتَاقٌ، مُشْتَاقٌ، مُشْتَاقٌ إِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ"
"Aku rindu, rindu, rindu kepadamu, wahai Rasulullah."
أَنَا → Dhamir (kata ganti) sebagai mubtada' untuk menunjukkan pelaku secara eksplisit.
إِلَيْكَ → Jar majrur untuk menunjukkan arah kerinduan secara lebih jelas.
Makna majazi dari syair "أَنَا مُشْتَاقٌ، مُشْتَاقٌ، مُشْتَاقٌ إِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ" adalah ungkapan kerinduan yang sangat mendalam dan terus-menerus kepada Rasulullah Saw. Pengulangan kata "مُشْتَاقٌ" menunjukkan betapa kuat dan besar perasaan rindu yang dirasakan, baik secara fisik maupun spiritual, terhadap Rasulullah Saw. Dalam konteks majazi, ini bukan hanya tentang rindu fisik, tetapi juga kerinduan akan petunjuk, ajaran, dan kedekatan spiritual dengan beliau.
حَبِيْبِي مُحَمَّدٌ قَلْبِي يَنْبِضُ لِرُؤْيَاكَ
"Kekasihku Muhammad, hatiku berdenyut untuk melihatmu."
نبَضَ يَنبُض ويَنبِض، مصدر نَبْضٌ، نَبَضَانٌ، فهو نابض، والمفعول منبوض
نَبَضَ - ينبض : berdenyut , berdebar , berdetak
رُؤْيا [مفرد]: ج رُؤًى (لغير المصدر):
رُؤْيَا : جمع: رُؤىً. [ر أ ي]. 1. "رَأى رُؤْيَا فِي مَنَامِهِ" : حُلْماً. الفتح آية 27لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالحَقِّ .(قرآن). 2."الرُّؤْيَا الصَّادِقَةُ" : العَلاَمَةُ الأُولَى لِكَشْفِ الغَيْبِ.
Untuk memperjelas maksud syair, kita bisa menambahkan kata kerja atau keterangan tambahan:
يَا حَبِيْبِي مُحَمَّدٌ، إِنَّ قَلْبِي يَنْبِضُ شَوْقًا لِرُؤْيَاكَ
"Wahai kekasihku Muhammad, sungguh hatiku berdenyut penuh kerinduan untuk melihatmu."
Penjelasan Tambahan:
يَا → Huruf nida' (kata seru) untuk memanggil.
إِنَّ → Harf taukīd (kata penegas) yang membuat قَلْبِي menjadi isimnya (isim inna).
شَوْقًا → Maf‘ūl muṭlaq (kata keterangan yang menegaskan fi'il), artinya "kerinduan yang mendalam".
Makna majazi dari syair "يَا حَبِيْبِي مُحَمَّدٌ، إِنَّ قَلْبِي يَنْبِضُ شَوْقًا لِرُؤْيَاكَ" adalah ungkapan kerinduan yang mendalam dan emosional terhadap Rasulullah. "قَلْبِي يَنْبِضُ شَوْقًا (hatiku berdenyut dengan kerinduan) menggambarkan perasaan yang sangat kuat, di mana kerinduan tersebut tidak hanya dirasakan dalam pikiran, tetapi juga menggetarkan hati. Dalam konteks majazi, ini menunjukkan bahwa perasaan rindu tersebut mengalir secara emosional dan spiritual, merindukan pertemuan dengan Rasulullah Saw.
ذَاك النُّوْرُ فِی رَاحِ يَدَيْك
"Itulah cahaya yang ada di telapak tanganmu."
راح : راح2 [جمع]: مف راحة: بطون الكُفُوف.
رَاحَة : 1. istirahat , relaksasi , rileks , tenang , tenteram , nyaman ; 2. telapak tangan
Untuk memperjelas maksud syair, kita bisa menambahkan kata tambahan:
ذَاكَ النُّوْرُ يَشِعُّ فِي رَاحِ يَدَيْكَ
"Itulah cahaya yang bersinar di telapak tanganmu."
Penjelasan Tambahan:
يَشِعُّ → Fi'il mudhāri‘ (kata kerja sekarang/masa depan) dalam keadaan marfū‘, artinya bersinar.
Dengan tambahan يَشِعُّ, makna kalimat menjadi lebih dinamis dan jelas
Makna majazi dari syair "ذَاكَ النُّوْرُ يَشِعُّ فِي رَاحِ يَدَيْكَ" adalah menggambarkan cahaya atau kebenaran yang terpancar dari Rasulullah. "النُّوْرُ يَشِعّ" (cahaya yang bersinar) secara majazi melambangkan ilmu, petunjuk, atau kebaikan yang terpancar dari beliau. "فِي رَاحِ يَدَيْكَ" (di telapak tanganmu) menunjukkan bahwa cahaya tersebut bersumber dari Rasulullah Saw dan menyentuh umatnya melalui kekuatan dan keberkahan yang beliau bawa. Secara keseluruhan, ini adalah metafora yang menggambarkan keberkahan dan cahaya ilahi yang ada pada Rasulullah Saw.
زَادَ شَوْقِي لِقَائِي إِلَيْكَ
"Kerinduanku terhadap pertemuanku denganmu semakin bertambah."
Untuk memperjelas maksud syair, kita bisa menambahkan keterangan tambahan:
زَادَ شَوْقِي إِلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِلِقَائِكَ
"Kerinduanku kepadamu, wahai Rasulullah, semakin bertambah untuk bertemu denganmu."
Penjelasan Tambahan:
إِلَيْكَ → Dipindah ke awal untuk memperjelas arah kerinduan.
يَا رَسُولَ اللَّهِ → Ditambahkan sebagai nida’ (seruan) untuk memperjelas kepada siapa syair ini ditujukan.
Makna majazi dari syair "زَادَ شَوْقِي إِلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِلِقَائِكَ" adalah ungkapan yang menggambarkan peningkatan kerinduan yang mendalam terhadap Rasulullah Saw. "زَادَ شَوْقِي" (bertambah kerinduanku) menunjukkan bahwa perasaan rindu terhadap Rasulullah semakin kuat dan mendalam. "لِلِقَائِكَ" (untuk bertemu denganmu) secara majazi melambangkan harapan yang kuat untuk mendekat dan bersatu dengan beliau, baik secara fisik maupun spiritual. Syair ini mengungkapkan kerinduan yang sangat besar terhadap pertemuan dan kedekatan dengan Rasulullah Saw.
فَاسْقِنِي يَا رَسُولَ فَإِنِّي
"Maka berilah aku minum, wahai Rasulullah, karena sesungguhnya aku…"
فَاسْقِنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنِّي ظَمْآنُ إِلَى لِقَائِكَ
"Maka berilah aku minum, wahai Rasulullah, karena sesungguhnya aku kehausan akan perjumpaan denganmu."
Penjelasan Tambahan:
ظَمْآنُ → Isim dalam keadaan marfū‘ (khabar dari إِنِّي), berarti kehausan.
إِلَى لِقَائِكَ → Jar majrūr, menunjukkan arah kehausan, yakni pertemuan denganmu.
Makna majazi dari syair "فَاسْقِنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنِّي ظَمْآنُ إِلَى لِقَائِكَ" adalah ungkapan kerinduan yang mendalam terhadap Rasulullah Saw. "ظَمْآنُ" (aku kehausan) secara majazi menggambarkan kondisi batin yang kekosongan atau kebutuhan mendalam akan kehadiran dan petunjuk Rasulullah. "إِلَى لِقَائِكَ" (untuk bertemu denganmu) melambangkan kerinduan bukan hanya terhadap pertemuan fisik, tetapi juga terhadap kedekatan spiritual dengan beliau. Syair ini menggambarkan betapa besar kehausan hati untuk bertemu dan mendapatkan berkah dari Rasulullah Saw.
قَدْ ظَمِئْتُ وَكَأْسِي لَدَيْكَ
"Aku telah kehausan, sementara cawanku ada di sisimu."
Untuk memperjelas makna syair, kita bisa menambahkan keterangan tambahan:
قَدْ ظَمِئْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَأْسِي لَدَيْكَ فَاسْقِنِي
"Aku telah kehausan, wahai Rasulullah, sementara cawanku ada di sisimu, maka berilah aku minum."
Penjelasan Tambahan:
يَا رَسُولَ اللَّهِ → Ditambahkan sebagai nida’ (seruan) agar lebih jelas siapa yang dimaksud dalam permohonan ini.
فَاسْقِنِي → Fi‘il amr (kata kerja perintah), artinya berilah aku minum, untuk memperjelas permohonan dalam syair ini.
Dengan tambahan ini, syair lebih kuat dalam ekspresi dan lebih mudah dipahami.
Makna majazi dari syair "قَدْ ظَمِئْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَأْسِي لَدَيْكَ فَاسْقِنِي" adalah ungkapan kerinduan dan kebutuhan yang mendalam akan petunjuk dan keberkahan dari Rasulullah Saw. "ظَمِئْتُ" (aku kehausan) secara majazi menggambarkan rasa kekosongan batin yang membutuhkan pemenuhan spiritual. "وَكَأْسِي لَدَيْكَ" (cawanku ada di sisimu) melambangkan bahwa sumber kepuasan batin dan kerinduan tersebut hanya dapat dipenuhi oleh Rasulullah. "فَاسْقِنِي" (berilah aku minum) merupakan permohonan untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan spiritual melalui kedekatan dengan beliau. Syair ini menggambarkan kerinduan yang sangat besar untuk mendapatkan petunjuk dan berkah dari Rasulullah Saw.
Pengasuh Mahad Bahasa Adab
Dr. Ir. Adib Shururi, M.Pd.