Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nasehat Al-Buthi: Wali Allah, Antara Karamah, Ilham, dan Firasat



Berikut adalah nasehat dari Syaikh Muhammad Said Ramadan Al-Buthi tentang wali Allah dan perkara gaib yang diunggah dalam youtube sebagai berikut:

Link: https://youtube.com/shorts/Hejo_mPpszk?si=sm7FvOAffL7NV2VF



Al-Buthi mengatakan:

وَلٰكِنْ قُلْنَا يُطْلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَائِهِ عَلَىٰ أَسْرَارِ عِبَادِهِ  

Tetapi, kami mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla memperlihatkan kepada sebagian wali-Nya tentang rahasia hamba-hamba-Nya

Ini menunjukkan bahwa Allah dapat memberikan ilmu ghaib kepada wali-wali-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Dalil yang mendukung:  

Al-Qur’an, Surah Al-Jinn (72:26-27):

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ

Dia mengetahui yang gaib. Lalu, Dia tidak memperlihatkan yang gaib itu kepada siapa pun, (Al-Jinn [72]:26)

اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًاۙ

kecuali kepada rasul yang diridai-Nya. Sesungguhnya Dia menempatkan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya. (Al-Jinn [72]:27)

Shahih Bukhari 6021: 
  
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Utsman bin Karāmah, dari Khalid bin Makhlad, dari Sulaiman bin Bilal, dari Syarik bin Abdullah bin Abi Namir, dari Atha’, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman: Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku kabulkan, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi. Dan tidaklah Aku ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan seperti keraguan-Ku dalam mencabut nyawa seorang mukmin. Ia membenci kematian, sedangkan Aku tidak ingin menyakitinya." (HR. Bukhari No. 6021)

Ini menunjukkan bahwa wali-wali Allah bisa diberikan ilmu atau pemahaman khusus oleh-Nya.

Al-Buthi mengatakan:

2. أَنْ يُكْرِمَكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا جَعَلَكَ اللهُ مِنْ أَوْلِيَائِهِ الصَّالِحِينَ  

(Bahwa Allah Azza wa Jalla akan memuliakanmu jika Dia menjadikanmu salah satu wali-Nya yang saleh)

Allah memberikan keistimewaan kepada wali-wali-Nya. Dalil:  

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ

Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (Yūnus [10]:62)

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ

(Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. (Yūnus [10]:63)

Ini menegaskan bahwa wali-wali Allah mendapatkan perlindungan dan kemuliaan dari-Nya.

Al-Buthi mengatakan:

3. لِمَعْرِفَةِ مَا يَجْرِي فِي الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ، مُمْكِنٌ بِأَنْ يُطْلِعَكَ اللهُ عَلَىٰ بَعْضِ مَا قَدْ سُطِّرَ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ

(Untuk mengetahui apa yang terjadi di alam tinggi, mungkin saja Allah memperlihatkan kepadamu sebagian yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh)

Ini menunjukkan bahwa Allah bisa memberi sebagian ilmu tentang perkara ghaib kepada wali-wali-Nya. Dalil:  

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. (Al-Baqarah [2]:255)

Ini menunjukkan bahwa hanya dengan izin Allah seseorang dapat mengetahui sebagian perkara ghaib.

Al-Buthi mengatakan:

4. مُمْكِنٌ أَنْ يُطْلِعَكَ اللهُ عَلَىٰ بَعْضِ الْخَصَائِصِ الْمَوْجُودَةِ فِي النَّبَاتَاتِ، بَلْ فِي عُمْقِ الْأَرْضِ، مَا الَّذِي يُوجَدُ فِي دَاخِلِ هَذِهِ الْأَرْضِ  

(Mungkin saja Allah memperlihatkan kepadamu sebagian sifat-sifat yang terdapat dalam tumbuhan, bahkan di kedalaman bumi, apa yang ada di dalamnya)

Ilmu tentang alam bisa diberikan kepada hamba-hamba Allah yang dikehendaki-Nya. Dalil:  

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ࣖ

Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok.603) (Begitu pula,) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti (Luqmān [31]:34)

Ini menunjukkan bahwa ilmu tentang hal-hal tersembunyi hanya diberikan Allah kepada siapa yang Dia kehendaki.

Al-Buthi mengatakan:

5. كُلُّ ذٰلِكَ مُمْكِنٌ أَنْ يَرْفَعَ الْحِجَابَ بَيْنَ هٰذَا الْوَلِيِّ وَبَيْنَ مَا يَجْرِي فِي مَكَانٍ بَعِيدٍ

(Semua itu mungkin terjadi, bahwa Allah mengangkat penghalang antara wali tersebut dengan apa yang terjadi di tempat yang jauh)  

Ini merujuk pada kejadian di mana seseorang bisa melihat atau mengetahui sesuatu yang jauh tanpa hadir di tempat tersebut. Dalil:  

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An-Naml [27]:40)

Ini menunjukkan bahwa Allah bisa memberikan kemampuan luar biasa kepada hamba-Nya.

Al-Buthi mengatakan:

6. كَمَا حَصَلَ لِسَيِّدِنَا عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَمَا سَارِيَهُ الْجَمَلُ، مُمْكِنٌ  

(Sebagaimana yang terjadi pada Sayyidina Umar radhiyallahu 'anhu ketika beliau berkata kepada Sariyah di perang yang jauh, itu mungkin terjadi)

Ini merujuk pada kisah terkenal Sayyidina Umar bin Khattab. Ketika beliau sedang berkhutbah di Madinah, beliau mendapat ilham tentang pasukan Islam di medan perang yang jauh (di Persia). 

Hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi dalam "Dalā'il al-Nubuwwah":

٥٢٥ - حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ ثنا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ قَالَ: ثنا أَيُّوبُ بْنُ خُوطٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السِّرَاجِ، عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عُمَرَ بَعَثَ سَرِيَّةً فَاسْتَعْمَلَ عَلَيْهَا رَجُلًا يُقَالُ لَهُ: سَارِيَةُ. فَبَيْنَا عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: يَا سَارِيَةُ الْجَبَلَ يَا سَارِيَةُ الْجَبَلَ فَوَجَدُوا سَارِيَةَ قَدِ انْحَازَ إِلَى الْجَبَلِ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَبَيْنَهُمَا مَسِيرَةُ شَهْرٍ
--------
ص579 - كتاب دلائل النبوة أبو نعيم الأصبهاني - ما ظهر على يد عمر ونياحة الجن عليه - المكتبة الشاملة

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Khalad, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah mengabarkan kepada kami Ayub bin Khuṭh, dari Abdurrahman as-Siraj, dari Nafi' bahwa Umar telah mengirimkan sebuah pasukan dan mengangkat seorang pemimpin di atasnya yang bernama Sariyah. Kemudian, ketika Umar radhiyallahu 'anhu sedang berkhutbah pada hari Jumat, ia berkata: "Wahai Sariyah, ke gunung! Wahai Sariyah, ke gunung!" Dan mereka mendapati Sariyah telah bertahan di gunung pada waktu yang sama, pada hari Jumat itu, meskipun antara keduanya terdapat perjalanan sejauh satu bulan."

Ini menunjukkan bahwa Allah bisa memperlihatkan atau memperdengarkan sesuatu yang jauh kepada wali-wali-Nya.


Kesimpulan:
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa Allah dapat memberikan ilmu, penglihatan, dan pemahaman tentang perkara ghaib kepada wali-wali-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, ini bukan berarti seseorang memiliki ilmu ghaib secara mutlak, karena ilmu ghaib hanya milik Allah semata. Wallahu a'lam.


Cara Memahami dan Syarat Memahami Hal Gaib agar Terhindar dari Klaim Palsu

Banyak orang mengaku bisa melihat hal gaib atau mendapat pengetahuan khusus dari Allah. Untuk membedakan yang benar dan yang hanya klaim palsu, kita harus memahami beberapa prinsip penting berdasarkan Al-Qur’an, Hadis, dan logika.  

1. Prinsip Utama: Hanya Allah yang Mengetahui Gaib
Dalam Islam, hal gaib adalah hak mutlak Allah. Seorang hamba tidak bisa mengetahui gaib kecuali jika Allah mengizinkan dan itu pun dalam bentuk yang terbatas.  

Dalil dari Al-Qur’an:

۞ وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). (Al-An‘ām [6]:59)


قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗوَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui sesuatu yang gaib selain Allah. Mereka juga tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml [27]:65)

Kesimpulan:
- Tidak ada manusia yang bisa mengetahui hal gaib secara mandiri.
- Jika ada seseorang yang mengaku bisa melihat gaib setiap saat, maka itu berbohong karena bertentangan dengan ayat di atas.  


2. Wali Allah Tidak Selalu Diberi Ilmu Gaib
Sebagian orang mungkin mendapat karamah, ilham atau firasat dari Allah, tetapi ini bukan berarti mereka tahu hal-hal gaib secara bebas. Para wali tidak memiliki kekuasaan sendiri untuk melihat yang gaib.  

Karamah adalah kejadian luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada wali-Nya sebagai tanda keistimewaan dan kedekatan mereka dengan Allah. Karamah tidak bisa diminta atau diusahakan, tetapi terjadi sebagai bentuk kehendak Allah. Dalil:


Shahih Bukhari 3413: 
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنْ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ زَادَ زَكَرِيَّاءُ بْنُ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ سَعْدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رِجَالٌ يُكَلَّمُونَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونُوا أَنْبِيَاءَ فَإِنْ يَكُنْ مِنْ أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ فَعُمَرُ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مِنْ نَبِيٍّ وَلَا مُحَدَّثٍ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Qaza'ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd, dari ayahnya, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:  "Sesungguhnya pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang yang diberi ilham (muhaddathun). Jika ada seseorang seperti itu dalam umatku, maka dia adalah Umar."
Zakariyya bin Abi Za'idah menambahkan dari Sa'd, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw bersabda:  "Sesungguhnya di antara Bani Israil yang hidup sebelum kalian terdapat orang-orang yang diajak berbicara (oleh Allah) tanpa menjadi nabi. Jika ada di antara umatku yang seperti mereka, maka dia adalah Umar." Ibnu Abbas Ra berkata:  "Baik nabi maupun muhaddath (orang yang diberi ilham) tidak ada lagi setelah Rasulullah." (HR. Bukhari, No. 3413)


Ilham adalah bisikan atau petunjuk yang Allah tanamkan dalam hati seseorang, sehingga ia memahami sesuatu tanpa melalui proses belajar biasa. Ilham bisa diberikan kepada siapa saja, terutama wali Allah, tetapi harus selalu dibandingkan dengan ajaran syariat. Dalilnya:

فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, (Asy-Syams [91]:8)

Firasat adalah ketajaman batin seorang mukmin yang membuatnya mampu mengetahui sesuatu yang tersembunyi berdasarkan cahaya petunjuk dari Allah. Firasat ini muncul sebagai hasil dari ketakwaan dan keimanan yang kuat. Dalilnya:

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِيْنَۙ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan (dengan saksama) tanda-tanda (itu). (Al-Ḥijr [15]:75)

Sunan Tirmidzi 3052:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الطَّيِّبِ حَدَّثَنَا مُصْعَبُ بْنُ سَلَّامٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ ثُمَّ قَرَأَ { إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ } قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ { إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ } قَالَ لِلْمُتَفَرِّسِينَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi Tayyib, telah menceritakan kepada kami Mus'ab bin Sallam, dari Amr bin Qais, dari Athiyyah, dari Abu Sa'id Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Takutlah terhadap firasat orang beriman, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah." Kemudian beliau membaca ayat:  "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang bertafakur (berfirasat)." (QS. Al-Hijr: 75)  
Abu Isa (Imam Tirmidzi) berkata:  "Hadis ini adalah hadis gharib, kami hanya mengetahuinya melalui jalur ini. Dan telah diriwayatkan dari sebagian ahli ilmu dalam tafsir ayat tersebut (إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ) bahwa maknanya adalah 'bagi orang-orang yang memiliki firasat'." (HR. Tirmidzi)


Kesimpulan:
- Berdasarkan dalil-dalil di atas, ini tidak berarti wali Allah bisa melihat hal gaib secara langsung, tetapi mendapat pertolongan dari Allah dalam karamah, ilham, firasat, dan pemahaman yang dalam.
- Jika ada orang yang mengaku bisa melihat jin, masa depan, atau membaca hati manusia setiap saat, maka itu tanda kesesatan.  

---

3. Kejadian Seperti Umar bin Khattab adalah Karamah (Keajaiban), Bukan Standar Umum
Dikisahkan bahwa Umar bin Khattab melihat pasukan Muslim dari kejauhan dan memberi perintah kepada mereka, meskipun jaraknya sangat jauh. Tetapi, ini bukan bukti bahwa Umar bisa melihat gaib kapan saja. Ini adalah karamah (keajaiban) yang Allah izinkan dalam kondisi tertentu.

Dalil dari Logika:
- Jika setiap wali bisa melihat hal gaib secara bebas, mengapa mereka tidak selalu tahu setiap kejadian yang terjadi di dunia?
- Para sahabat Nabi pun tidak selalu tahu hal gaib, padahal mereka adalah wali-wali Allah yang paling utama.  
- Nabi Muhammad Saw hanya tahu hal gaib yang diberitahukan Allah (QS. Al-Jin: 26-27). Maka bagaimana mungkin ada orang biasa yang lebih tahu daripada Nabi?  

---

4. Ciri-Ciri Orang yang Mengaku Bisa Melihat Gaib tetapi Sebenarnya Menyesatkan
Untuk terhindar dari klaim palsu, perhatikan tanda-tanda berikut:  

Ciri Wali Sejati:
- Tidak pernah mengaku-aku bisa melihat gaib.  
- Selalu tunduk kepada Al-Qur’an dan Hadis.  
- Tidak mencari keuntungan dunia dari klaimnya.  
- Tidak mengaku mendapat wahyu baru atau ilmu khusus di luar Islam.  

Ciri Orang yang Mengaku Wali Palsu:  
- Mengaku bisa melihat jin, surga, neraka, atau ruh orang mati.  
- Menawarkan jasa untuk membaca masa depan atau mengetahui nasib.  
- Mengklaim memiliki ilmu langsung dari Allah tanpa melalui Al-Qur’an dan Hadis.  
- Meminta uang atau pengikut untuk tunduk kepadanya.  

Dalil dari Al-Qur’an:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Al-Isrā' [17]:36)


5. Kesimpulan dan Cara Menghindari Klaim Palsu  
1. Hanya Allah yang mengetahui gaib secara mutlak (QS. Al-An’am: 59).  
2. Wali Allah tidak selalu diberi ilmu gaib, dan jika pun ada, itu hanya dalam bentuk terbatas sesuai kehendak Allah.  
3. Jika ada orang yang mengaku bisa melihat gaib kapan saja, dia berbohong.
4. Peristiwa seperti Umar bin Khattab adalah karamah khusus, bukan sesuatu yang bisa diklaim setiap orang.
5. Hindari orang yang mengaku wali tetapi mencari keuntungan dunia atau melanggar syariat Islam.

Semoga ini bisa membantu kita lebih berhati-hati terhadap klaim palsudan memahami konsep ilmu gaib dengan benar menurut Islam.

Semoga bermanfaat,
Pengasuh Mahad Bahasa Adab
Dr. Ir. Adib Shururi, M.Pd.